
TEGAL — Deru mesin produksi di kawasan industri Jalan Lingkar Utara, Kota Tegal, pagi itu terasa berbeda. Di balik ritme kerja para pekerja pabrik alas kaki PT Teng Fei Glory Indonesia, tersimpan sebuah momentum penting: untuk pertama kalinya, ribuan pasang sepatu olahraga buatan Tegal resmi melangkah ke pasar global. Kamis (5/2) menjadi hari bersejarah ketika perusahaan tersebut melepas ekspor perdana sebanyak 10.840 pasang sepatu merek Joma ke Spanyol, dengan nilai total mencapai USD 100.124 atau setara Rp1,69 miliar.
Ekspor perdana ini bukan sekadar seremoni pengiriman barang lintas negara. Di baliknya, terdapat peran strategis Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta (Bea Cukai Jateng DIY) yang secara konsisten mendorong industri berorientasi ekspor melalui pemberian fasilitas Kawasan Berikat. Kebijakan ini menjadi kunci bagi PT Teng Fei Glory Indonesia untuk menembus pasar internasional secara lebih kompetitif.
PT Teng Fei Glory Indonesia merupakan perusahaan manufaktur alas kaki dan sepatu olahraga yang berlokasi di Kelurahan Pesurungan Lor, Kecamatan Margadana, Kota Tegal. Selain memproduksi sepatu bermerek Joma, perusahaan ini juga menjadi mitra produksi bagi sejumlah merek internasional ternama seperti Skechers, Diadora, dan Hi-Tec. Produk-produknya ditujukan untuk pasar ekspor utama di Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok.
Kepala Kantor Bea Cukai Tegal, Yudiyarto, menegaskan bahwa ekspor perdana tersebut menjadi tonggak penting sejak perusahaan ditetapkan sebagai penerima fasilitas Kawasan Berikat. Menurutnya, fasilitas ini bukan hanya instrumen fiskal, tetapi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam memperkuat industri nasional.
“Fasilitas Kawasan Berikat memberikan kemudahan berupa penangguhan bea masuk serta tidak dipungut Pajak Dalam Rangka Impor. Harapannya, ini dapat mendorong peningkatan produktivitas perusahaan sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja di Kota Tegal dan sekitarnya,” ujarnya.
Peresmian status Kawasan Berikat PT Teng Fei Glory Indonesia sendiri dilakukan oleh Kanwil Bea Cukai Jateng DIY sebagai langkah strategis untuk memperkokoh fondasi industri ekspor, khususnya di sektor alas kaki dan sepatu olahraga. Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan dan Hubungan Masyarakat Kanwil Bea Cukai Jateng DIY, R. Megah Andiarto, menjelaskan bahwa fasilitas ini memberikan efisiensi signifikan bagi pelaku usaha.
“Dengan status Kawasan Berikat, perusahaan dapat mengimpor bahan baku, bahan penolong, dan mesin tanpa harus membayar bea masuk, PPN, dan PPhBM, selama hasil produksinya diekspor. Ini bentuk dukungan nyata pemerintah agar industri Indonesia mampu bersaing dalam rantai pasok global,” jelas Megah.
Ia menambahkan bahwa fasilitas tersebut juga menuntut komitmen kepatuhan yang tinggi dari perusahaan. Menurutnya, kemitraan antara Bea Cukai dan pelaku usaha dibangun atas dasar kepercayaan dan integritas. “Perusahaan menyatakan siap mematuhi seluruh regulasi yang berlaku dan menerima konsekuensi atas setiap ketentuan. Inilah fondasi iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dari sisi daerah, Pemerintah Kota Tegal menyambut positif ekspor perdana ini. Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, yang hadir langsung dalam pelepasan ekspor, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif dan ramah investasi. Ia mengimbau para pelaku usaha agar tidak ragu mengembangkan usahanya di Kota Tegal.
Sementara itu, General Manager PT Teng Fei Glory Indonesia, Li Xiang Wae, menyampaikan apresiasi atas dukungan Bea Cukai dan pemerintah daerah. Ia menegaskan komitmen perusahaan untuk menjaga kepercayaan tersebut dengan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian lokal. Hingga saat ini, perusahaan telah menyerap hampir 700 tenaga kerja lokal, dan jumlah tersebut diproyeksikan terus meningkat seiring pengembangan usaha.
Prospek pertumbuhan PT Teng Fei Glory Indonesia juga tercermin dari rencana investasinya. Pada 2025, nilai investasi perusahaan tercatat sebesar Rp30 miliar dan diproyeksikan melonjak hingga Rp300 miliar pada 2029. Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah pekerja lokal diperkirakan meningkat dari 700 orang pada 2025 menjadi sekitar 3.000 orang pada 2029. Kapasitas produksi pun ditargetkan naik drastis, dari 100.000 pasang sepatu per tahun menjadi 5 juta pasang per tahun pada 2029.
“Kami optimistis fasilitas Kawasan Berikat akan menjadi katalis bagi perusahaan untuk semakin agresif menjangkau pasar internasional dengan produk yang kompetitif,” pungkas Megah.
Keberadaan PT Teng Fei Glory Indonesia sebagai Kawasan Berikat baru diharapkan tidak hanya mendorong kinerja ekspor Jawa Tengah, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal. Aktivitas industri ini diproyeksikan menggerakkan sektor pendukung seperti logistik, kuliner, hingga perumahan di sekitar kawasan industri.
Melalui kebijakan yang pro-bisnis dan berorientasi ekspor, Bea Cukai Jateng DIY terus menunjukkan perannya sebagai penggerak ekosistem industri nasional yang tangguh. Dari Kota Tegal, sepatu olahraga buatan anak bangsa kini melangkah mantap menuju pasar global, membawa cerita tentang kolaborasi, kepatuhan, dan daya saing Indonesia di panggung internasional.
